oleh : Kiki Syukri Musthafa ( Jamaah Masjid Agung Tasikmalaya )
DIKISAHKAN dalam satu hikayat, seorang pengemis
mendatangi seorang Qadil ( hakim ) yang kaya. Ia meminta sang Qadil memberinya
sesuatu yang bisa mengganjal kebutuhannya sampai besok hari.
“Wahai Tuan Qadil, berikan aku sesuatu yang bermanfaat bagiku.” Sang Qadil diam. Ia menolak memberikan apapun. Dalam benaknya, tak sedikitpun terbersit rasa simpati. Baginya, pengemis adalah pemalas yang tak layak untuk di kasihani.
Beberapa saat kemudian, si pengemis bertemu dengan seorang Nasrani. Di luar dugaan, Nashara panggilan seorang Nasrani, mengabulkan permintaan Si Pengemis. Mencukupi semua kebutuhannya.
Di saat yang bersamaan, di tempat lain, Sang Qadil tertidur. Ia bermimpi berada di satu rumah megah yang berdindingkan permata. Bertiang emas. Dan berlantai mutiara. “Rumah ini untuk siapa?” tanya Sang Qadil kepada si penjaga rumah. “Rumah megah ini, untuk orang yang bershadaqah di hari ini,” jawab si penjaga yang secara spontan membuat Sang Qadil terbangun. Ia gelagapan. Kemudian terlintas si pengemis dalam ingatannya. Bergegas Sang Qadil bangkit, dan mencari si pengemis yang beberapa saat yang lalu di abaikannya. Ia menemukan si pengemis bersama Nashara.
“wahai Nashara, Biarkan si pengemis bersamaku. Akan ku kabulkan semua permintaannya,” pinta Sang Qadil yang langsung ditolak Nashara. “Akan kubayar semua yang kau berikan kepada Nashara, asalkan kau relakan si pengemis bersamaku,” lanjutnya setengah memohon. Nashara tetap diam. Ia tak menggubris permintaan dan tawaran Sang Qadil. Kemudian Nashara berkata, “Demi kemuliaan hari ini, aku akan membahagiakan orang fakir yang membutuhkan. Aku ingin mendapatkan kemuliaan hari ini.”
Mendengar perkataan Nashara, Sang Qadil tercengang. Ia tak habis pikir, untuk kemudian meyanggah. “Bagaimana mungkin kamu akan mendapatkan kemuliaan hari ini, sedangkan kamu seorang Nasrani?”. Tanpa pikir panjang, sanggahan Sang Qadil dijawab Nashara dengan sangat meyakinkan, “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammadadalah utusan Allah.”
“Wahai Tuan Qadil, berikan aku sesuatu yang bermanfaat bagiku.” Sang Qadil diam. Ia menolak memberikan apapun. Dalam benaknya, tak sedikitpun terbersit rasa simpati. Baginya, pengemis adalah pemalas yang tak layak untuk di kasihani.
Beberapa saat kemudian, si pengemis bertemu dengan seorang Nasrani. Di luar dugaan, Nashara panggilan seorang Nasrani, mengabulkan permintaan Si Pengemis. Mencukupi semua kebutuhannya.
Di saat yang bersamaan, di tempat lain, Sang Qadil tertidur. Ia bermimpi berada di satu rumah megah yang berdindingkan permata. Bertiang emas. Dan berlantai mutiara. “Rumah ini untuk siapa?” tanya Sang Qadil kepada si penjaga rumah. “Rumah megah ini, untuk orang yang bershadaqah di hari ini,” jawab si penjaga yang secara spontan membuat Sang Qadil terbangun. Ia gelagapan. Kemudian terlintas si pengemis dalam ingatannya. Bergegas Sang Qadil bangkit, dan mencari si pengemis yang beberapa saat yang lalu di abaikannya. Ia menemukan si pengemis bersama Nashara.
“wahai Nashara, Biarkan si pengemis bersamaku. Akan ku kabulkan semua permintaannya,” pinta Sang Qadil yang langsung ditolak Nashara. “Akan kubayar semua yang kau berikan kepada Nashara, asalkan kau relakan si pengemis bersamaku,” lanjutnya setengah memohon. Nashara tetap diam. Ia tak menggubris permintaan dan tawaran Sang Qadil. Kemudian Nashara berkata, “Demi kemuliaan hari ini, aku akan membahagiakan orang fakir yang membutuhkan. Aku ingin mendapatkan kemuliaan hari ini.”
Mendengar perkataan Nashara, Sang Qadil tercengang. Ia tak habis pikir, untuk kemudian meyanggah. “Bagaimana mungkin kamu akan mendapatkan kemuliaan hari ini, sedangkan kamu seorang Nasrani?”. Tanpa pikir panjang, sanggahan Sang Qadil dijawab Nashara dengan sangat meyakinkan, “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammadadalah utusan Allah.”
Hikayat di atas menjelaskan
tentang fadlilah ‘Asyura ( Hari kesepuluh di bulan Muharram ) dalam kitab
Irsyadul ‘Ibad. Kisah yang dituturkan Syaikh Zainuddin bin abdul Aziz bin Zainuddin
al-Malyabariyyi, menyinggung tentang keutamaan shadakah di hari ‘Asyura.
Dalam lintas sejarah umat manusia, tanggal 10 Muharram menyimpan banyak peristiwa besar. Di hari itu, Nabiyullah Nuh AS., di selamatkan Allah dari api Namrud. Nabiyulah Musa AS., diselamatkan Allah dari kejaran Fir’aun. Dan banyak lagi peristiwa lain yang menjadikan hari itu sedemikian istimewa. Sehingga sebagai bentuk syukur, ada dua hal yang kemudian dianjurkan di hari tersebut.
Dalam lintas sejarah umat manusia, tanggal 10 Muharram menyimpan banyak peristiwa besar. Di hari itu, Nabiyullah Nuh AS., di selamatkan Allah dari api Namrud. Nabiyulah Musa AS., diselamatkan Allah dari kejaran Fir’aun. Dan banyak lagi peristiwa lain yang menjadikan hari itu sedemikian istimewa. Sehingga sebagai bentuk syukur, ada dua hal yang kemudian dianjurkan di hari tersebut.
PERTAMA, shaum ( puasa ). Hal
ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW., “In kunta shaiman ba’da ramadlan,
fashum limuharramn. Fainnahu syahrullah. Fiihi yaumun taballahu ‘ala qaumin wa
yatubu ‘ala akhirin” yang artinya “ sendainya kalian berpuasa setelah Ramadhan,
maka berpuasalah di bu bulan Muharram. Ia adalah hari dimanaAllah menerima
taubat suatu kaum dan umat-umat sebelumnya.”
KEDUA, Shadaqah. Dianjurkannya shadaqah di hari ‘Asyura, pun adalah bentuk syukur. Sehingga syukur tersebut harus “dirayakan” dengan saing berbagi, saling membantu, saling berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi sesama. Tentu , untuk mencapai “kemuliaan” hidup sebagai umat yang beradab, seperti yang di kisahkan dalam hikayat Syaikh al-Malyabariyyi di atas.
KEDUA, Shadaqah. Dianjurkannya shadaqah di hari ‘Asyura, pun adalah bentuk syukur. Sehingga syukur tersebut harus “dirayakan” dengan saing berbagi, saling membantu, saling berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi sesama. Tentu , untuk mencapai “kemuliaan” hidup sebagai umat yang beradab, seperti yang di kisahkan dalam hikayat Syaikh al-Malyabariyyi di atas.
Demikianlah Fadlilah-keutamaan,
hari ‘Asyura ( Hari kesepuluh di bulan Muharram ). Bisa jadi, ketika tulisan
ini sampai ke pembaca, hari kesepuluh Muharram sudah berlalu. Setidaknya akan
menjadi penepuk ingatan kita, apakah kita menjadi Sang Qadil yang tak peduli
terhadap sesama. Ataukah seperti Nashara yang kemudian menyempurnakan imannya?
Wallahu ‘alamu.
No comments:
Post a Comment