Thursday, 4 June 2015

DELAPAN KEUTAMAAN MEMBACA AL QURAN

Berikut ini beberapa keutamaan membaca Alquran. Pertama, Menjadi Perniagaan yang tidak akan merugi. Allah berfirman: " Sesungguhnya orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugrahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi." ( QS Al-Fathir : 29 ).
Kedua, merupakan amal yang baik. Rasulullah Bersabda: "Sebaik-baiknya kalian Adakah orang yang belajar Al Quran dan mengajarkannya." ( HR Bukhari ). Ketiga, mendapat derajat atau kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah Bersabda : "Orang yang membaca Al Quran dengan mahir akan bersama-sama malaikat yang mulia lagi taat ( HR Bukhari dan muslim ). Keempat, Mendapat sakinah ( ketenangan jiwa ) dan rahmat  ( kasih sayang ). Rasulullah Bersabda: "Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam satu rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Al Quran kecuali turun atas mereka sakinah dan rahmat serta diliputi oleh malaikat serta Allah sebut di hadapan malaikat ( sisi-Nya )." ( HR Muslim ).
Kelima, mendapat sebaik-baiknya anugrah Allah SWT. Keenam, seperti buah utrujan yang wangi dan lezat. Rasulullah bersabda: "perumpamaan orang beriman yang membaca Al Quran seperti buah utrujah, aromanya wangi dan rasanya lezat' perumpamaan orang yang beriman yang tidak membaca Al Quran itu seperti kurma, tidak beraroma tapi rasanya manis, perumpamaan orang munafik yang membaca Al Quran itu seperti buah raihanah, aromanya wangi tapi rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik tidak membaca Al Quran seperti buah handhalah (semacam labu), tidak beraroma dan rasanya pahit." (HR Bukhari dan Muslim). Ketujuh, mendapat kebaikan berlipat ganda. Kedelapan, memberikan syafaat ketika hari hari kiamat kelak, Rasulullah bersabda: "Bacalah Al Quran, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan memberikan syafaat kepada pembacanya." (HR Muslim). Semoga Allah SWT merahmati dengan wasilah Al Quran yang kita baca.

Tuesday, 20 January 2015

SHALAT: TEMPAT MERINDU MAHA RINDU


                Apa yang manusia rindukan adalah apa yang ia cintai. Bila ia telah dan benar-benar cinta pada siapa yang ia cintai, maka lahirlah kesetiaan. Bila ia berjanji akan, telah, dan terus setia, tentu perasaan rindu akan selalu hadir dalam hatinya. Ia yang merindukan kekasihnya akan selalu ingi bertemu, memandang, dan ingin terus setiap waktu bersamanya. Ia rela meninggalkan kepentingan lainnya dan setia menyempatkan waktu demi bertemu melepas rindu. Ia mengingat dan terus mengingat namanya, serta memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu dengannya. Demikian adalah rindu namanya.
                siapakah yang paling berhak kita rindukan? Dan bagaimana cara menghadirkan rasa rindu? Serindu-rindunya kita pada manusia janganlah melebihi rindu kita pada Tuhan dan Rasul-Nya. Dialah yang berhak kita rindukan, Allah Yang Maha Merindu Pemberi rasa rindu. Bukankah Dia selalu setia menunggu, bahkan memanggil kita 5 kali (waktu) setiap hari?. Tidakkah kita mendengar dan memenuhi setiap panggilan rindu-Nya? Setia pada janji  (waktu dan tempat pertemuan) yang telah ditentukan. Bukankah, “Shalat (yaitu tempat dan waktu merindu) merupakan fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (yaitu orang-orang yang setia dan selalu rindu pada Tuhannya?)”. (QS. An-Nisa: 103).
                Ada hal lain yang jauh lebih indah dari sekedar pengungkapan, yaitu pembuktian. Tuhan pun demikian. Dia akan merindukan hamba-Nya yang berusaha sekemampuan dirinya (bukan sekehendak) untuk membuktikan cintanya. Disana akan terlihat siapa yang benar-benar mencintai tuhannya. Dan akan terlihat pula siapa yang cintanya hanya sekedar pengakuan saja, tidak sampai pada pembuktian. Lalai, berdusta. Demikian bukanlah rindu namanya.
                Shalat merupakan Rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Ibadah (fardhu) utama yang tuhan perintahkan kepada Nabi Muhammad SAW serta umatnya. Shalat adalah ibadah yang menenangkan, menentramkan, lagi menyejukan hati. “Kesejukan hatiku berada pada shalat” (HR. Bukhari & muslim), demikian Rasul SAW bersabda, jika telah tiba waktu shalat, beliau berlisan pada muazin, “Ayo bangun, Bilal! Buat kami nyaman dengan shalat” (HR. Abu Daud). Demikian kerinduan beliau patron kita.
                Barangsiapa yang mendirikan shalat dengan khusyuk (tepat waktu dan berjamaah) maka begitulah cara menghdirkn rasa rindu. Pembuktian dari kesetiaan ia pada Tuhannya. Ia akan terus menunggu dan terus menunggu setiap panggilan-Nya. Bila Dia memanggil, bergetarlah hatinya. Bersegera memenuhinya seraya berdoa dengan melangkahkan kaki kanan (masuk masjid), “Aku memohon kepada-Mu pintu-pintu rahmat-Mu”.
                Melalaikan (waktunya) bahkan sering meninggalkan shalat (berjamaahya) adalah bentuk penghianatan, perselingkuhan dan menyiksaan diri yang tidak akan terasa (dosanya) bagi mereka yang keras hatinya. “maka celakalah orang yang shala, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya”. (QS. Al-Ma’un: 4-5). Bagi mereka yang istiqomahdengan waktu dan berjamaahnya, shalat adalah tempat tempat kenikmatan, kemesraan dn tempat kerinduan bersama Tuhannya.
                “Kami rindu dan kami menunggu”. Demikian lisan mereka kepada Tuhannya yang selalu menunggu waktu kemenangan. Ia adalah tempat dan waktu ketenangan, kerinduan dan penghasil kenikmatan. Manisnya keimanan tidak dapat di gambarkan, tapi terasa dlam hati kedekatan ia dengan Tuhannya. Setelah salam, tersenyumlah hatinya. Setelah setelah kaki kiri melangkah (keluar masjid), ia berlisan dengan doa dan i’tikad perjuangan, “kami siap menjaganya!”. Begitulah hati yang rindu pada Tuhan. Setia menjaga setiap waktu pertemuan (Shalat) yang telah di janjikan (ditetapkan). Adakah hati kita Rindu pada-Nya? Rindu dan setia pada Tuhan yang Maha Merindu. Wallahu a’lamu.

Tuesday, 13 January 2015

MUHASABAH: MENGINGAT PULANG



               “Pulang, saya mau pulang!” ucap seorang anak santri baru setiap kali ia menemukan kesedihan, kejemuan, atau kegalauan dilingkungan barunya. Seperti halnya aduan seorang anak kecil ketika mengingat ibunya, secara spontan menangis  dan merengek ingin kembali kepangkuan ibunya lagi. Nada serupa juga sering di sebut-sebut oleh orang-orang  yang berada di perantauan ketika merindukan kampung halamannya. Jadi, tidak hanya seorang santri baru, anak keci, maupun orang dewasa, kita sesungguhnya suka merindui tempat pertama kali kita berpijak di bumi ini, yang di sebut rumah, kampung halaman. Sehingga kenyataan ini berarti bahwa pada hakikatnya ada keterkaitan yang kuat antara diri kita dan kata “kembali”, alias pulang.
                Selanjutnya, mari kita telusuri, apakah kita sudah jauh memahami keyakinan untuk kembali, atau makna dari berpulang. Mari tengok aktivitas tahunan kita yang sedikit akan memaparkan fenomena rindu, yaitumasa mudik lebaran. Di negara kita mudik sudah menjadi tradisi, walau dalam kesempatan yang ini masih diuji cobakan kita sedari betul, rasa rindu terhadap rumah (atau rumah orang tua), kampung halaman, atau sebutlah sebuah apa saja untuk sebuah tempat yang penuh dengan kehangatan keluarga, seringkali ada di tengah istirahat kerja bahkan ditengah kesibukan sekalipun. Tak ayal, meski rumahnya sederhana bukan istana, didalamnya tidak ada pelayanan seperti di hotel berbintang, tidak ada makanan ala restaurant, tetap saja rumah (rumah orang tua) selalu terasa betah dan istimewa. Tentu yang di maksud disini, rindu terhadap orang-orang didalamnya, orang-orang yang selalu membagi cintanya. Ya, ita yakini dengan pasti, bahwa kita akan benar-benar pulang, dikembalikan kepada pemilik keabadian.
                Akan tetapi selanjutnya, rumah yang kelak ditempati itu sperti apa? Pertanyaan ini layaknya pertanyaan mereka yang sedang merana merindui rumah orang tuanya, sperti apakah keadaan di rumah? Seperti halnya orang yang mudik lebaran, membawa sebanyak-banyaknya bawaan untuk memperoleh kebahagiaan berupa senyum orang-orang yang di cintainya di tempat yang penuh cinta, maka ke alam akhiratpun tak mungkin membeli kebahagian dengan tangan hampa amalan hasan. Kita jelas mendamba rumah yang penuh kenyamanan, keadaan yang kita beli semenjak di perantauan, dunia. Nasululloha min husnil khotimah.
               
Pernyataan yang biasa dijadikan nasihatdan penyemangat kepada para santri baru yang dimabukan kata pulang adalah “...Yuk bikinprestasi dulu biar mamah sama ayah jadi bangga, kan itu bisa jadi oleh-oleh spesial buat mereka. Kamu juga senang kan kalau mereka tersenyum bahagia dengan anaknya yang shaleh lagi cerdas?” Nada yang hampir sama dengan nasihat untuk para perantau kurang lebih seperti ini: “mari kumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk meraih rumah impian, kebahagian yang abadi, dan mari kita kurangi serta tnggalkan beban-beban yang akan memberatkan perjalanan pulang kita”. Semoga kita dapat pulang menuju tempat yang sebaik-baiknya, allohumma amiin.

Sunday, 4 January 2015

Janji



                Kapan terakhir kali kita merasa diingkari? Bisa jadi, ketika kita mengingatnya saat diingkari janji, ketika itu pula kita sedang kembali menyadari bahwa kita pernah menyakiti. Pernah mengingkari.
                Janji seperti pisau yang paling tajam, bisa d pakai untuk mengiris bahan masakan. Dan bermanfaat saat digunakan sesuai aturan. Akan tetapi, bisa pula mengiris kulit dan melukai diri sendiri, juga pihak lain, jika tidak dipergunakan dengan cara yang semestinya.
                Dalam beberapa keterangan yang kerap terdengar, janji adalah hutang. Ia merupakan barang pinjaman yang harus dikembalikan. Dan di tuntut jika belum ditunaikan. Akan tetapi, apapun tentang janji, kesemuanya tak lepas dari persoalan berinteraksi yang baik dengan sesamanya.
                Oleh karenanya, janji merupakan cerminan akhlak dan etika seseorang yang terhubung secara langsung denga layak tidaknya seseorang untuk dipercaya.
                Seseorang yang memiliki kecakapan berinteraksi dengan baik, memiliki kecenderungan baik pula dalam memelihara janji. Hal ini dikarenakan, menepati janji adalah petanda baik tentang akhlak dan moralitas seseorang. Sehingga, Allah SWT secara khusus menyanjung seorang mukmin yang memiliki-memaksimalkan akal untuk menerima ayat-ayat Allah SWT, “Alladzina bil’ahdihim walayangqudluna al-mitsaq (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (QS. Ar-Raad : 20).
                Dari penggalan ayat diatas, terlihat jelas bahwa posisi seorang ‘penepat janji’ sejajar dengan posisi seorang mukmin yang selalu berusaha untuk memaksimalkan anugrah yang diberikan Allah, untuk menerima dan mengalkan setiap yang diprintahkan dan dilarang-Nya. Karena apapun alasannya, menepati janji adalah bagian dari tolak ukur akhlak seseorang . Yang kemudian akan menunjukan kadar ketakwaan yang ada dalam dirinya. Ini selaras dengan, “Bala man aufa bi’ahdihi, wattaqa fainnallaha yuhibbul muttaqin (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat) nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran : 76).
                Berkaitan dengan perihal janji yang merupakan kadar ketakwaan seseorang sebagai pisau yang tajam, janjipun menawarkan ancaman jika tidak ditunaikan. Pengingkar janji termasuk yang tidak akan luput dari laknat Allah SWT. Hal ini berangkat dari hadits Rasulullah SAW, “Man akhfara musliman, fa’alihi la’natullah wal malaikati wan nasi ajma’in. La yukbalu minhu sharfun walaa ‘adlun barang siapa yang tidak menepati janji seorang muslim, maka dia medapat laknat Allah, malaikat dan seluruhmanusia. Tidak diterima darinya taubat tebusan.” (HR. Bukhari Muslim).
                Demikianlah janji sebagai tolak ukur akhlak, moralitas dan ketakwaan seseorang. Sehingga jika ditepati, akan membuka pintu “surga” yang selalu identik dengan segala hal yang menyenangkan kebahagiaan, ketenangan, hubungan yang baik, rezeki yang lancar dan halal, serta yang di ridhai Allah SWT. Sementara jika diingkari, is akan menjai laknat yang tak lepas dari segala bentuk kesusahan hidup. Akhirnya, kapan terakhir kali kita mengingkari janji? Wallahu a’lamu.