Sunday, 4 January 2015

Janji



                Kapan terakhir kali kita merasa diingkari? Bisa jadi, ketika kita mengingatnya saat diingkari janji, ketika itu pula kita sedang kembali menyadari bahwa kita pernah menyakiti. Pernah mengingkari.
                Janji seperti pisau yang paling tajam, bisa d pakai untuk mengiris bahan masakan. Dan bermanfaat saat digunakan sesuai aturan. Akan tetapi, bisa pula mengiris kulit dan melukai diri sendiri, juga pihak lain, jika tidak dipergunakan dengan cara yang semestinya.
                Dalam beberapa keterangan yang kerap terdengar, janji adalah hutang. Ia merupakan barang pinjaman yang harus dikembalikan. Dan di tuntut jika belum ditunaikan. Akan tetapi, apapun tentang janji, kesemuanya tak lepas dari persoalan berinteraksi yang baik dengan sesamanya.
                Oleh karenanya, janji merupakan cerminan akhlak dan etika seseorang yang terhubung secara langsung denga layak tidaknya seseorang untuk dipercaya.
                Seseorang yang memiliki kecakapan berinteraksi dengan baik, memiliki kecenderungan baik pula dalam memelihara janji. Hal ini dikarenakan, menepati janji adalah petanda baik tentang akhlak dan moralitas seseorang. Sehingga, Allah SWT secara khusus menyanjung seorang mukmin yang memiliki-memaksimalkan akal untuk menerima ayat-ayat Allah SWT, “Alladzina bil’ahdihim walayangqudluna al-mitsaq (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (QS. Ar-Raad : 20).
                Dari penggalan ayat diatas, terlihat jelas bahwa posisi seorang ‘penepat janji’ sejajar dengan posisi seorang mukmin yang selalu berusaha untuk memaksimalkan anugrah yang diberikan Allah, untuk menerima dan mengalkan setiap yang diprintahkan dan dilarang-Nya. Karena apapun alasannya, menepati janji adalah bagian dari tolak ukur akhlak seseorang . Yang kemudian akan menunjukan kadar ketakwaan yang ada dalam dirinya. Ini selaras dengan, “Bala man aufa bi’ahdihi, wattaqa fainnallaha yuhibbul muttaqin (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat) nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran : 76).
                Berkaitan dengan perihal janji yang merupakan kadar ketakwaan seseorang sebagai pisau yang tajam, janjipun menawarkan ancaman jika tidak ditunaikan. Pengingkar janji termasuk yang tidak akan luput dari laknat Allah SWT. Hal ini berangkat dari hadits Rasulullah SAW, “Man akhfara musliman, fa’alihi la’natullah wal malaikati wan nasi ajma’in. La yukbalu minhu sharfun walaa ‘adlun barang siapa yang tidak menepati janji seorang muslim, maka dia medapat laknat Allah, malaikat dan seluruhmanusia. Tidak diterima darinya taubat tebusan.” (HR. Bukhari Muslim).
                Demikianlah janji sebagai tolak ukur akhlak, moralitas dan ketakwaan seseorang. Sehingga jika ditepati, akan membuka pintu “surga” yang selalu identik dengan segala hal yang menyenangkan kebahagiaan, ketenangan, hubungan yang baik, rezeki yang lancar dan halal, serta yang di ridhai Allah SWT. Sementara jika diingkari, is akan menjai laknat yang tak lepas dari segala bentuk kesusahan hidup. Akhirnya, kapan terakhir kali kita mengingkari janji? Wallahu a’lamu.

2 comments:

  1. tulisannya keren,tulisan ini mengingatkan akan janji yang tak kunjung di tepati oleh someone :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, dan terima kasih juga atas kunjungannya...

      Delete