Tuesday, 13 January 2015

MUHASABAH: MENGINGAT PULANG



               “Pulang, saya mau pulang!” ucap seorang anak santri baru setiap kali ia menemukan kesedihan, kejemuan, atau kegalauan dilingkungan barunya. Seperti halnya aduan seorang anak kecil ketika mengingat ibunya, secara spontan menangis  dan merengek ingin kembali kepangkuan ibunya lagi. Nada serupa juga sering di sebut-sebut oleh orang-orang  yang berada di perantauan ketika merindukan kampung halamannya. Jadi, tidak hanya seorang santri baru, anak keci, maupun orang dewasa, kita sesungguhnya suka merindui tempat pertama kali kita berpijak di bumi ini, yang di sebut rumah, kampung halaman. Sehingga kenyataan ini berarti bahwa pada hakikatnya ada keterkaitan yang kuat antara diri kita dan kata “kembali”, alias pulang.
                Selanjutnya, mari kita telusuri, apakah kita sudah jauh memahami keyakinan untuk kembali, atau makna dari berpulang. Mari tengok aktivitas tahunan kita yang sedikit akan memaparkan fenomena rindu, yaitumasa mudik lebaran. Di negara kita mudik sudah menjadi tradisi, walau dalam kesempatan yang ini masih diuji cobakan kita sedari betul, rasa rindu terhadap rumah (atau rumah orang tua), kampung halaman, atau sebutlah sebuah apa saja untuk sebuah tempat yang penuh dengan kehangatan keluarga, seringkali ada di tengah istirahat kerja bahkan ditengah kesibukan sekalipun. Tak ayal, meski rumahnya sederhana bukan istana, didalamnya tidak ada pelayanan seperti di hotel berbintang, tidak ada makanan ala restaurant, tetap saja rumah (rumah orang tua) selalu terasa betah dan istimewa. Tentu yang di maksud disini, rindu terhadap orang-orang didalamnya, orang-orang yang selalu membagi cintanya. Ya, ita yakini dengan pasti, bahwa kita akan benar-benar pulang, dikembalikan kepada pemilik keabadian.
                Akan tetapi selanjutnya, rumah yang kelak ditempati itu sperti apa? Pertanyaan ini layaknya pertanyaan mereka yang sedang merana merindui rumah orang tuanya, sperti apakah keadaan di rumah? Seperti halnya orang yang mudik lebaran, membawa sebanyak-banyaknya bawaan untuk memperoleh kebahagiaan berupa senyum orang-orang yang di cintainya di tempat yang penuh cinta, maka ke alam akhiratpun tak mungkin membeli kebahagian dengan tangan hampa amalan hasan. Kita jelas mendamba rumah yang penuh kenyamanan, keadaan yang kita beli semenjak di perantauan, dunia. Nasululloha min husnil khotimah.
               
Pernyataan yang biasa dijadikan nasihatdan penyemangat kepada para santri baru yang dimabukan kata pulang adalah “...Yuk bikinprestasi dulu biar mamah sama ayah jadi bangga, kan itu bisa jadi oleh-oleh spesial buat mereka. Kamu juga senang kan kalau mereka tersenyum bahagia dengan anaknya yang shaleh lagi cerdas?” Nada yang hampir sama dengan nasihat untuk para perantau kurang lebih seperti ini: “mari kumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk meraih rumah impian, kebahagian yang abadi, dan mari kita kurangi serta tnggalkan beban-beban yang akan memberatkan perjalanan pulang kita”. Semoga kita dapat pulang menuju tempat yang sebaik-baiknya, allohumma amiin.

No comments:

Post a Comment