Monday, 17 November 2014
Sederhana
Oleh : Jamaah Masjid Agung Kota Tasikmalaya
Tentu setiap yang terlahir di bekali keinginan. Keinginan untuk memiliki dan merasakan. Sehingga setiap kita rela menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran, untuk mewujudkan keinginan tersebut. Memiliknya. Pun merasakannya. Tetapi tak jarang , keinginan selalu bersebrangan dengan keadaan yang tak memihak. Sehingga melawan keadaan adalah salah satu cara yang harus di tempuh. Bekerja di luar batas kewajaran. Dan berangan-angan di luar batas kemampuan. Ini yang tak disadari, perlahan jadi bumerang. Alih-alih ingin mendekati dan meraih yang diinginkan , justru berbalik menjadi menjauh dari tujuan. Kecewa? Tentu.
Kita sombong. Merasa paling mampu menorobos segala kemungkinan tanpa diimbangi dengan “kapasitas diri”. Kesombongan itu lambat laun meruntuhkan kerja keras kita. Dan membuat kita tak merupa apapun selain manusia yang penuh ambisi. Sesak dengan angan-angan. Namun, sekali mencoba mewujudkan, kita melupakan keberperanan pihak lain. Dalam hal ini, tubuh dan perasaan kita. Juga tubuh dan perasaan orang lain. Dan tentunya keberperanan Allah dalam setiap langkah laku yang setiap kita jejakan.
Hidup dengan menggadaikan tubuh kita pada rutinitas yang berlebih, tentu menyakitkan perasaan sendiri. Setiap detiknya hanya diperbudak keinginan. Setelah tercapai, muncul keinginan baru yang jauh lebih menyesakkan. Dan jika tidak tercapai, luapan kekecewaan tak bisa dielakan. Manusiawi? Tentu. Tetapi, bukankah dengan dibekalinya kita, akal dan indera, untuk senantiasa menerima setiap apa yang terjadi? Untuk tidak lebih bodoh dari binatang ternak yang bisu, buta dan tuli menyikapi realtas ulaika kal an’am bal hum adlol?.
lepas dari tercapai tidaknya keinginan kita, pihak lain selalu ikut menjadi bagian didalamnya. Jika berhasil, tak jarang itupun dengan menyisihkan keinginanorang lain. Dan jika gagal, seringkali kitapun berusaha untuk “mempertahankan diri” dan menyalahkan pihak lain. Tidakah ini menyiksa?.
Dalam keadaan diatas, Allah menjadi yang sering terlupakan. Sekali diingat jika berhasil, hanya diingat seucap “hamdallah” saja. Kemudian lenyap di balik uforia perayaan yang melenakan, sebelum menceburkan kembali untuk mengejar keinginan yang baru lagi lagi. Dan jika gagal, yang muncul adalah ketidakpuasan. Protes. Tak menerima apa yang Allah berikan. Seolah apapun yang gagal, adalah bentuk betaoa tidak adilnya Tuhan terhadap kerja keras kita. Bukankah inipun teramat menyiksa?.
Kesombongan kita. Ketamakan kita. Dan kebodohan kita diperbudak angan-angan, yang pada akhirnya menghanguskan rasa syukur terhadap apapun yang Tuhan berikan. Jika seandainya kita mampu “menyederhanakan” keinginan kita hanya sebatas apa yang dibutuhkan, tentu ceritanya akan berbeda. Dan jika kebutuhan kita, hanya karena untuk membuat kening kita tetap menyentuh tempat sujud tiap detiknya, tentu tak akan ada rasa kecewa. Sehingga, setiap lebih dan kurang dalam pencapaian yang kita kerjakan, dapat dinikmati dengan penuh senyum dan setulus-tulusnya menerima. Mengakui, bahwa segala apa yag dimiliki. Bahwa segala apa yang terjadi. Adalah segala hal yang terbaik yang sudah Tuhan rencanakan sebelumnya.
Demikianlah, bersikap sederhana bukan berarti melupakan kerja keras, tetapi bersikap proporsional dan tidak melupakan keberperanan pihak lain. Terlebih kekuatan Allah yang berbeda diatas segalanya. Dan perlahan, rasa santun kita akan melahirkan suara-suara yang lembut dan menenangkan.suara tentang keinginan sederhana. Yang bisa dimiliki dan dirasakan sepadan dengan “kapasitas diri” kita dengan berbalut rasa syukur. Bukan suara keledai, yang menggangu nyaring tak berirama, “waghdudl fi masyyika. Waqshid min shoutika. Inna ankaral ashwat lashautul hamir dan sederhanakanlah langkahmu di muka bumi. Rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya suara adalah selayaknya suara keledai.” (QS. Lukman: 19). Shadaqallah al-‘adhim.
Saturday, 15 November 2014
Astagfirullah
Oleh : Rino Sundawa Putra ( Dosen FISIP Universitas Siliwangi )
Para pembaca, semoga Allah swt mengampuni kita atas setiap waktu yang diberikan Allah kepada kita, waktu yang nyata-nyatanya menambah berat timbangan dosa kita. Sungguh manusia adalah lemah, tanpa daya dan upaya dari setiap godaan yang mengajak kita pada keburukan, tanpa pertolongan dan ampunan Allah yang maha luas manusia hanyalah mahluk yang berbuat kerusakan, menzholimi dirinya sendiri, mudah terbujuk oleh hasutan setan. Astagfirullah, tanpa kita sadari hari-hari kita diisi dengan menggunjing, bergosip, berhati hasud, menggerutu, kecewa terhadap ketentuan Allah, berbohong, marah, berburuk sangka, takut dan resah akan takdir Allah, jumawa dan sombong, atas nikmat yang diberika, entah itu beupa jabatan atau kekayaan, ambisi-ambisi duniawi. Astagfirullah, waktu yang di berikan Allah banyak kita sia-siakan.
Betapa dekatnya manusia dngan kesalahan-kesalahan, kekhilafan-kekhilafan atas dirinya. Tak ada satu manusia yang bisa luput dari berbuat dosa, untuk itu kembali mengoreksi diri sendiri, dengan segala kerendahan hati kita berani mengakui bahwa kita salah, perbuatan kita buruk, kemudian kita istighfar dengan segenap ketulusan, maka di sanalah pintu ampunan Allah dibukakan untuk kita.
Karena betapa dekatnya kita dengan berbuat salah, khilaf dan dosa, maka Rasulullah SAW pun bermunajat kepada Allah, Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau biasa berdoa dengan doa sebagai berikut; “Ya Allah, ampunilah kesaahanku, kebodohanku, dan perbuatanku yang berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah kesalahanku yang engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kemalasanku, kesengajaanku, kebodohanku, gelak tawaku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan dan dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan, Engkaulah yang mengajukan dan Engkaulah yang mengakhirkan, serta Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.” (HR Bukhari – Sahih).
Nabi Musa pun bermunajat minta ampunan kepada Allah, “ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah, Dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang. (QS.Al Qashash [28] : 16).
Para pembaca, kita harus mengakui bahwa diri kita bukanlah manusia yang terbebas dari dosa (ma’shun), maka pekalah terhadap diri sendiri, pekaah setiap kali diri merasa berbuat khilaf, dengan hati yang peka maka akan mudah bagi kita untuk mengoreksi diri, menyadari kesalahan dan memetakan yang baik dan yang buruk dalam pandangan syariat, kemudian kita meminta ampun kepada Allah, Astaghfirullah!
Rasulullah SAW bersabda, “Allah telah berkata, ‘ wahai hamba-hamba-Ku, setiap kalian pasti berdosa kecuai yang Aku jaga, maka beristighfarlah kalian kepada-Ku, niscaya kalian Aku ampuni. Dan barang siapa yang meyakini bahwa Aku punya kemampuan untuk mengampuni dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tak peduli (berapa banyak dosanya).” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi). Wallahualam bishawab.
Friday, 14 November 2014
Hujan : Basahi Bumi, Basahi Hati
Oleh : Ati
Nurrohmah ( Mahasiswa Universitas Pendidikan indonesia )
Akhir-akhir ini hujan sering
sekali turun, mendamaikan suasana yang biasanya keruh karena debu-debu yang
beterbangan, polusi di sana sini, ditambah dengan hembusan panas tiap harinya.
Alhamdulillah. Saking sering menyaksikannya kita mungkin memandang hujan dengan
biasa, dan kita juga mungkin lupa untuk mentadaburinya. Sikap yang ada malah
acuh, sekadar menegok ke jendela memastikan apakah perlu melanjutkan (pekerjaan),
atau menundanya dan berdiam/berselimut/menghangatkan diri, ketimbang
memanjatkan do’a: Allohumma Shoyyiban naafi’an (HR.Bukhari no. 1032).
Pada saat turun hujan ada keberkahan yang amat disayang jika dilewatkan. Keberkahan tersebut yaitu pada saat hujan merupakan waktu berdoa yang mustajab. Sebagaimana Rasulullah bersabda yang artinya: “Carilah ijabah doa ketika (hendak) bertemunya pasukan, saat (akan) didirikannya shalat dan saat turunnya hujan.” (Hadist diriwayatkan Imam syafi’i dalam Al Umm dan di nyatakan Hasan okeh Al-Albani). Subhanallah wal hamdulillah, betapa indahnya perintah ini. Ketika hujan dan berada di perjalanan, tentu kita berhenti sejenak mencari tempat yang kering untuk menghangatkan diri atau menyelamatkan diri dari kemungkinan bahaya, maka perintah ini tentu saja tidak akan membebankan justru sangat membantu urusan kita. Disamping menunggu hujan reda kita masih dapat memperbanyak perbuatan baik, lewat banyak berdo’a yang telah di janjikan ijabahnya. Dengan begitu, jelas sangat disayangkan jika amalan berdo’a dan bersyukur ketika turun hujan ini tidak dapat dilaksanakan padahal ia teramat ringan sementara imbalannya luar biasa.
Pada saat turun hujan ada keberkahan yang amat disayang jika dilewatkan. Keberkahan tersebut yaitu pada saat hujan merupakan waktu berdoa yang mustajab. Sebagaimana Rasulullah bersabda yang artinya: “Carilah ijabah doa ketika (hendak) bertemunya pasukan, saat (akan) didirikannya shalat dan saat turunnya hujan.” (Hadist diriwayatkan Imam syafi’i dalam Al Umm dan di nyatakan Hasan okeh Al-Albani). Subhanallah wal hamdulillah, betapa indahnya perintah ini. Ketika hujan dan berada di perjalanan, tentu kita berhenti sejenak mencari tempat yang kering untuk menghangatkan diri atau menyelamatkan diri dari kemungkinan bahaya, maka perintah ini tentu saja tidak akan membebankan justru sangat membantu urusan kita. Disamping menunggu hujan reda kita masih dapat memperbanyak perbuatan baik, lewat banyak berdo’a yang telah di janjikan ijabahnya. Dengan begitu, jelas sangat disayangkan jika amalan berdo’a dan bersyukur ketika turun hujan ini tidak dapat dilaksanakan padahal ia teramat ringan sementara imbalannya luar biasa.
Adapun turunnya hujan itu
memiliki dua kemungkinan, yakni mendatangkan manfaat atau madharat. Pada surah
Al Baqarah ayat 22, Allah swt menjelaskan bahwasanya Dia menurunkan air (hujan)
dari langit, lalu dengan hujan tersebut dihasilkanlah segala buah-buahan sebagai
rejeki untuk manusia. Ini adalah salah satu karunia Allah, kasih sayang-Nya
yang tak terhingga kepada kita. Sementara pada surah Al Ahqaf ayat 24-25 Allah
swt mengisahkan tentang kaum ‘Aad yang mendapat azab melalui awan (yang mereka
kira akan menurunkan hujan) disebabkan kekufurannya kepada Allah. Na’udzubillahi
mindzalik.
Apakah yang Allah kehendaki atas turunnya hujan akhir-akhir ini, menumbuh suburkan tanaman di pekarangan kita? Atau apakah turunnya hujan ini akan menjadi bencana bagi kita? Sebaiknya mari kita berbaik sangka dan segera memohon ampunan dan rahmat-Nya. Sungguh Dia-lah satu-satunya Dzat Yang Maha Mencintai. Mari kita simak kembali firman Allah swt dalam QS. Al-A’raf ayat 57 yang artinya sebagai berikut: “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati. Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”
Dari ayat tersebut, jelas sekali bahwa Allah swthendak mengingatkan kita akan hari kebangkitan, yakni akan adanya hari kehidupan setelah kematian. Kehidupan setelah kematian adalah ketika kita menuai pahala atas apa yang telah di kerjakan di dunia. Alhasil ketika hujan mengingatkan kita akan akhirat, maka selanjutnya yang diharapkan adalah sikap bersegera dalam beramal untuk mempersiapkan bekal menempuh perjalanan panjang setelah kematian. Agar ketika hari itu tiba kita dapat memetik buah terbaik yang manis lagi segar yang akan menuntun kita ke tempat pengembalian terindah.
Allah telah menyimpan begitu banyak hikmah dalam setiap penciptaannya, tidak ada satupun yang terkecualikan, dan tidak sia-sia. Begitupun Rasulullah saw sebagai pembawa risalah telah menyampaikan apa yang seharusnya beliau sampaikan, tidak ada yang ia sembunyikan. Sehingga sekarang, urusan kita adalah berpikir untuk mengambil pelajarannya. Wamaa yadzdzakkaru illa ulul albaab (QS. Imran : 7). Semoga kita tidak lagilengah memetik hikmah dari turunnya hujan, yakni dengan bertafakur akan kehidupan akhirat, bersyukur, dan berfikir. Sehingga hujan tak sekadar membasahi isi bumi, tapi membasahi hati kita. Amin.
Apakah yang Allah kehendaki atas turunnya hujan akhir-akhir ini, menumbuh suburkan tanaman di pekarangan kita? Atau apakah turunnya hujan ini akan menjadi bencana bagi kita? Sebaiknya mari kita berbaik sangka dan segera memohon ampunan dan rahmat-Nya. Sungguh Dia-lah satu-satunya Dzat Yang Maha Mencintai. Mari kita simak kembali firman Allah swt dalam QS. Al-A’raf ayat 57 yang artinya sebagai berikut: “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati. Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”
Dari ayat tersebut, jelas sekali bahwa Allah swthendak mengingatkan kita akan hari kebangkitan, yakni akan adanya hari kehidupan setelah kematian. Kehidupan setelah kematian adalah ketika kita menuai pahala atas apa yang telah di kerjakan di dunia. Alhasil ketika hujan mengingatkan kita akan akhirat, maka selanjutnya yang diharapkan adalah sikap bersegera dalam beramal untuk mempersiapkan bekal menempuh perjalanan panjang setelah kematian. Agar ketika hari itu tiba kita dapat memetik buah terbaik yang manis lagi segar yang akan menuntun kita ke tempat pengembalian terindah.
Allah telah menyimpan begitu banyak hikmah dalam setiap penciptaannya, tidak ada satupun yang terkecualikan, dan tidak sia-sia. Begitupun Rasulullah saw sebagai pembawa risalah telah menyampaikan apa yang seharusnya beliau sampaikan, tidak ada yang ia sembunyikan. Sehingga sekarang, urusan kita adalah berpikir untuk mengambil pelajarannya. Wamaa yadzdzakkaru illa ulul albaab (QS. Imran : 7). Semoga kita tidak lagilengah memetik hikmah dari turunnya hujan, yakni dengan bertafakur akan kehidupan akhirat, bersyukur, dan berfikir. Sehingga hujan tak sekadar membasahi isi bumi, tapi membasahi hati kita. Amin.
Sunday, 9 November 2014
Tentang Surat Al Fatihah
Oleh : Iman Nuryaman ( Freelancer )
Hafal terhadap surat Al Fatihah merupakan kewajiban seorang setiap orang yang mengerjakan ibadah sholat, baik ketika sholat sendiri, atau sebagai makmum ataupun sebagai Imam harus mengerti dan paham Surat Alfatihah. Karena jika tidak membaca surat Al Fatihah maka sholatnya tidak sah.
Nabi kita, sang suri tauladan kita yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلاَثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيْلَ لِأَبِيْ هُرَيْرَةَ: إِنَّا نَكُوْنُ وَرَاءَ اْلإِمَامِ فَقَالَ: اِقْرَأْ بِهَا فِيْ
نَفْسِكَ فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَّمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِيْ وَبَيْنَ عَبْدِيْ نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِيْ مَا
سَأَلَ
Artinya :
“Barangsiapa yang melakukan sholat, sedang ia tak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di dalamnya, maka sholatnya kurang (3X), tidak sempurna”. Abu Hurairah ditanya, “Bagaimana kalau kami di belakang imam”. Beliau berkata, “Bacalah pada dirimu (yakni, secara sirr/pelan), karena sungguh aku telah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Allah -Ta’ala- berfirman, “Aku telah membagi Sholat (yakni, Al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku setengah, dan hamba-Ku akan mendapatkan sesuatu yang ia minta”. [HR. Muslim (395), Abu Dawud (821), At-Tirmidziy (2953), An-Nasa’iy (909), dan Ibnu Majah (838)]
Mari kita baca dulu suratnya :
Berikut arti dan maknanya:
Alhamdulillah,
segala puji bagi Allah Tuhan Semesta alam yang senantiasa memberi banyak
kenikmatan. Sholawat serta salam kita tujukan pada junjungan kita Nabi Muhammad
SAW yang sangat kita harapkan syafaatnya di hari akhir nanti.
Surat Al Fatihah termasuk dalam surat
makkiyah yaitu surat yang diturunkan di Mekkah. Surat Al Fatihah merupakan
surat pertama dalam Al Qur an atau disebut sebagai surat pembuka. Surat Al
fatihah Terdiri dari atas 7 ayat.Hafal terhadap surat Al Fatihah merupakan kewajiban seorang setiap orang yang mengerjakan ibadah sholat, baik ketika sholat sendiri, atau sebagai makmum ataupun sebagai Imam harus mengerti dan paham Surat Alfatihah. Karena jika tidak membaca surat Al Fatihah maka sholatnya tidak sah.
Nabi kita, sang suri tauladan kita yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلاَثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيْلَ لِأَبِيْ هُرَيْرَةَ: إِنَّا نَكُوْنُ وَرَاءَ اْلإِمَامِ فَقَالَ: اِقْرَأْ بِهَا فِيْ
نَفْسِكَ فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَّمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِيْ وَبَيْنَ عَبْدِيْ نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِيْ مَا
سَأَلَ
Artinya :
“Barangsiapa yang melakukan sholat, sedang ia tak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di dalamnya, maka sholatnya kurang (3X), tidak sempurna”. Abu Hurairah ditanya, “Bagaimana kalau kami di belakang imam”. Beliau berkata, “Bacalah pada dirimu (yakni, secara sirr/pelan), karena sungguh aku telah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Allah -Ta’ala- berfirman, “Aku telah membagi Sholat (yakni, Al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku setengah, dan hamba-Ku akan mendapatkan sesuatu yang ia minta”. [HR. Muslim (395), Abu Dawud (821), At-Tirmidziy (2953), An-Nasa’iy (909), dan Ibnu Majah (838)]
Mari kita baca dulu suratnya :
Berikut arti dan maknanya:
Ayat 1: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang”.
Rasakan
betapa besar kasih sayang Allah kepada kita semua, bayangkan semua nikmat yang
telah kita terima dariNya. Nikmat udara yang kita hirup, nikmat penglihatan,
nikmat pendengaran, nikmat sehat. Apakah kita sudah berterima kasih padaNya??.
Rasakan kasih sayang dan sifatnya yang maha pengasih serta pemurah. Rasakan
getaran dihati anda, hingga timbul dorongan untuk menangis. Silahkan menangis
jika dorongan itu memang kuat. Jangan tahan tangisan anda.
Ayat 2: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”
Rasakan
betapa mulianya Allah, betapa Agungnya Dia , hanya Dialah yang berhak dipuji.
Dialah Tuhan penguasa Alam semesta yang maha mulia dan Maha terpuji. Rasakan
betapa hina dan tidak berartinya kita dihadapan Dia. Lenyapkan semua kesombongan
diri dihadapaNya. Rasakan getaran yang dahsyat didada anda…
Ayat 3: “Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
Rasakan
seperti pada ayat pertama
Ayat 4: “Yang menguasai hari pembalasan”
Bayangkan
seolah olah anda berada dihapan Allah di padang Mahsyar kelak. Dia lah penguasa
tunggal dihari itu. Bagaimana keadaan anda dihari itu? Rasakan dan hayati ayat
tadabbur yang anda dengar. Biarkan airmata anda mengalir . Menangislah
dihadapan Allah pada hari ini , disaat pintu taubat masih terbuka. Jangan
sampai anda menangis kelak dihari berbangkit ketika pintu taubat telah tertutup
Ayat 5: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada
Engkaulah kami mohon pertolongan”
Inilah
pengakuan anda bahwa hanya Dia yang anda sembah, dan hanya padaNya anda mohon
pertolongan. Buatlah pengakuan dengan tulus dan iklas.
Ayat 6: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”
Mohonlah
padanya agar ditunjuki jalan yang lurus. Jalan yang penuh dengan rahmat dan
berkahNya. Dengarkan dan hayati kalimat tadabbur yang anda dengar
Ayat 7: “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat
kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka
yang sesat”.
Bayangkan
jalan orang orang yang telah mendapat nikmat , kebahagian dan kesuksesan
sebagai karunia dari sisinya. Berharaplah untuk mendapat kebahagian seperti
orang itu.
Bayangkan pula jalan orang orang yang mendapat murka dan azabnya
Bayangkan pula jalan yang ditempuh orang yang sesat mohon agar dijauhkan dari jalan itu.
Bayangkan pula jalan orang orang yang mendapat murka dan azabnya
Bayangkan pula jalan yang ditempuh orang yang sesat mohon agar dijauhkan dari jalan itu.
Jika anda orang yang
berhati peka pasti anda akan menangis, mendengar bacaan tadabbur ini. Jika anda
belum merasakan getaran apapun dihati anda. Ulangi terus tadabbur ini. Gunung
saja akan hancur mendengar ayat Qur’an , hati anda tidak sebesar gunung bukan?
Mudah mudahan Allah tidak mengunci mati hati anda ..Wassalam.
Subscribe to:
Posts (Atom)
